[Sharing] Merawat Bayi Prematur – Bagian 1 (saat di rumah sakit)

Saat Aira terlahir prematur, saya sebenarnya sangat-sangat tidak siap apa yang harus saya lakukan untuk bayi prematur mungil saya. Bisa ditebak kemudian kemana saya harus bertanya? Yup, yang paling mudah adalah G.O.O.G.L.E.

Sayangnya kebanyakan yang muncul dari hasil googling (berbahasa Indonesia) sungguh ‘menyeramkan’. Begitu banyak kelainan yang mungkin timbul, begitu banyak syarat & ketentuan yang harus diperhatikan dalam merawat bayi prematur. Seolah bayi prematur sedemikian ringkihnya. Dan tentu saja semua hal tersebut menakutkan saya sebagai ibu baru😦

Kenyataannya…merawat bayi prematur tidaklah sesulit yang dibayangkan (tapi saya juga nggak bilang mudah loh). Intinya postingan kali ini saya pengen memberikan sharing berimbang bagaimana saya menjalani hari-hari merawat bayi mungil yang saat ini sudah beranjak gadis (halah baru juga 19bulan Aira nya bun, hehehe).

Sebelumnya kalo ada yang bingung dengan istilah bayi prematur dan bayi BBLR seperti berikut ya…

Bayi prematur (menurut WHO) adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan (gestasi) 37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir.

Sedangkan bayi BBLR atau Bayi Berat Lahir Rendah adalah bayi yang dilahirkan dengan berat kurang dari 2500 gram. Klasifikasinya:

Bayi Berat Lahir Rendah –> Berat lahir < 2500 gram

Bayi Berat Lahir Sangat rendah –> Berat lahir < 1500 gram

Bayi Berat Lahir Amat Sangat Rendah –>Berat lahir < 1000 gram

Kuis #1: Aira lahir di usia kehamilan 34 Minggu dengan berat lahir 1440 gram, masuk dalam kategori manakah ia?

*Yang bisa menjawab dengan benar dapat ucapan “Terima Kasih telah berpartisipasi pada kuis kali ini” hehehe… Kuisnya nggak serius bunda. Kalo mau kuis beneran dengan bertabur banyak hadiah ikutan Giveaway Hari Ibu yang ini aja ya.

Pemeriksaan yang dijalani Aira

Kebanyakan pemeriksaan-pemeriksaan Aira ini dijalani saat masih di NICU rumah sakit, namun ada juga beberapa yang dilakukan setelahnya sesuai rekomendasi dokter anak yang merawat.

1. Pemeriksaan Laboratorium

Aira menjalani cek darah hampir setiap 2-3 hari sekali selama kurang lebih sebulan awal hidupnya. Cek darah ini antara lain test darah rutin (HB, Ht, Leuko, Trombo), tes Torch, tes kultur darah (terutama ketika demam, untuk melihat hasil pembiakan apakah ada pertumbuhan bakteri atau steril)

2. USG Kepala

Begitu lahir Aira menjalani USG kepala dimana hasilnya normal sesuai gambaran kepala bayi prematur. Sayangnya dikemudian hari ternyata diketahui Aira memiliki kelainan bawaan di kepala. Sudah pernah saya singgung dikit mengenai ‘craniosynostosis’, nanti akan dibuat postingan tersendiri yang lebih lengkap.

3. Echocardiography – USG Jantung

Aira menjalani 2x Echo, saat usia 10 hari dan sebulan. Alhamdulillah tidak ada kelainan jantung.

4. Pemeriksaan Pendengaran

Tes untuk Aira dilakukan dengan Otoacoustic Emissions (OAE). Hasil tesnya kala itu (Aira 1 bulan) Left (telinga kiri) Pass dan Right (telinga kanan) Refer. Saya sebagai orang awam tentu saja nggak ngerti apa maksudnya Pass dan Refer, pertanyaan saya waktu itu sederhana saja, apakah artinya Aira mengalami gangguan pendengaran atau tidak (istilah awamnya, “anak saya tuli atau enggak dok?”).

Namun hasil pemeriksaan OAE tidak bisa menyimpulkan tuli atau tidak. Kalau mau bisa dilakukan pemeriksaan pendengaran yang lebih komplet –> dan saya memilih tidak melakukan pemeriksaan lain-lainnya.

Saya mengulang tes OAE saat Aira 2 bulan dan hasilnya kanan-kiri PASS.

5. Pemeriksaan Mata

Pemeriksaan mata dijalani Aira saat berumur sekitar 1 bulan, tujuannya untuk deteksi ROP (Retinopathy of Prematurity). Kala itu saya juga nggak paham apa maksud berlembar lembar gambar & laporan tes ROP Aira. Balik ke pertanyaan sederhana lagi, apakah anak saya bisa melihat atau tidak? Sayangnya dokter ketika itu belum bisa menjamin. Namun hasil ROP Aira normal, tidak ditemukan kelainan retina.

Kami diminta untuk ROP ulang sebulan kemudian, apabila dianjurkan demikian atas pertimbangan dokter anak subspesialis Neurologi. Alhamdulillah ternyata tidak diperlukan tes ulang.

6. Cek fungsi organ penting.

Aira menjalani pemeriksaan ini diumur 5 bulan, ke dokter anak subspesialis pencitraan. Alhamdulillah semua normal.

2012-06-01 13.10.59

Resiko Bayi Prematur

Ini beberapa kejadian yang dialami Aira di awal-awal kehidupannya.

1. Demam

Saat umur 2 minggu, Aira sempat demam diatas 38 degC dan langsung diberikan antibiotik selama 2 minggu. Padahal demamnya sendiri hanya sehari dan hasil lab nya (yang sayangnya baru keluar sehari kemudian) menunjukan bukan karena infeksi bakteri/steril. Perlukah? *hayo dijawab lagi untuk kuis #2

2. Muntah

Saat umur kurang dari sebulan, Aira beberapa kali muntah yang menyebabkan ia sering dipuasakan dan musti mengulang takaran minum ASI ke dosis yang lebih kecil (hadeew kapan gemuknya nak ngulang ngulang terus).

3. Minum ASI menggunakan sonde/selang kecil di mulut sampai ke lambung

4. Belajar reflek hisap menggunakan empeng atau dot –> yang ini sampai sekarang saya nggak terima dengan teori ini. Belajar kok setengah-setengah, buat apa coba belajar ngempeng atau ngedot, secara fisiologis prinsip keduanya sangat berbeda. Menurut saya, yang diperlukan adalah belajar reflek hisap sesuai refleks primitif bayi dengan menyusu langsung pada ibunya.

5. Lupa napas (apneu)

Inilah yang menyebabkan jantung saya berhenti berdetak. Saya menerima kabar dari suster NICU kalo Aira mengalami apneu saat saya masih di kereta KRL dalam perjalanan pulang dari rumah sakit ke rumah (Well…buat yang belum tau, selama menyambangi Aira saya menggunakan transportasi ojek dari rumah ke stasiun, sambung krl dari lenteng ke cikini, dan kemudian ojeg lagi ke rumah sakit, seorang diri. Sampe lupa bagaimana rasa nyut-nyutannya perut pasca caesar).

Paniknya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tentu saja. Saya pengen ngobrol sendiri dengan dokter yang menangani, dokter subspesialis jantung, tetapi suster bilang dokter sedang memeriksa Aira.

Oh ya baiklah, nanti saya hubungi lagi. Sampai rumah, saya telfon NICU lagi yang sayangnya dokter sudah pulang, yaaa…. Namun menurut suster, kondisi Aira sudah normal kembali.

Lega? Belum sih. Pengen minta anter suami balik ke rumah sakit, tapi kondisi nggak memungkinkan, sudah jam 10 malem aja gitu, ntar sampe NICU jam berapa, malah nggak bisa masuk kan sayang udah jauh-jauh.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali saya sudah standby di NICU, rela berdiri berdesakan dengan jutaan pekerja di Kereta Commuter Line (biasanya saya pilih berangkat jam 10an pagi karena kereta lebih manusiawi). Lega bisa melihat langsung kondisi Aira yang baik-baik saja.

Menurut dokter, apneu common dialami oleh bayi prematur. Ahh dok common nggak common namanya ibu pasti panik dibilang anaknya henti nafas sekian detik😦

Biaya selama dirawat

Ini bagian lain yang bikin deg-degan, kami khawatir uang kami tidak cukup untuk menebus Aira dari rumah sakit *seperti berita-berita di tv itu. Memang ada asuransi dari kantor, namun administrasi untuk pendaftaran Aira belum sempet saya urus (selain karena masih cuti juga kondisinya tidak memungkinkan saya bolak-balik ngurus ke kantor). Lagipula saya nggak tau berapa limit yang akan di-cover oleh asuransi. Kalaupun bisa di-reimburse tetap saja harus menyiapakan dana tunai kan.

Total biaya perawatan Aira selama 32 hari di NICU sekitar 110 juta *merem liat angkanya.

Alhamdulillah 90 jutanya dicover oleh asuransi. Perusahaan tempat saya bekerja juga sangat membantu dalam pengurusan asuransi ini *ah jadi berasa hutang budi sama kantor ini. 

Nah dengan biaya sekian ratus juta itu boleh dong saya nggak puas dengan pelayanan NICU, setidaknya inilah komplain saya, barangkali bisa membuat siapapun anda lebih waspada:

1. Pelayanan suster

Ada beberapa suster yang baik, namun beberapa lagi sebaliknya. Suster yang baik akan memberikan saya kursi untuk duduk disebelah inkubator Aira. Sangat sepele memang, tapi coba bayangkan jika anda habis caesar, kadang-kadang masih pusing karena tekanan darah tinggi pre-eklampsia belum normal. Bagaimana rasanya berdiri selama 6-7 jam?? Yaa…saya menunggui di sebelah Aira selama itu, menceritakan apa saja yang bisa saya ceritakan, memandangnya dikala tidur pulas, memegang tangannya sesekali terutama saat ia mulai gusar atau menangis. Suster tidak baik (versi saya) boro-boro memberikan kursi, kadang kursi yang terlanjur saya pake aja diminta, atau lebih ekstrem saya ‘diusir’ dari NICU dengan alasan Aira tidur jadi jangan diganggu.

Hal sepele lain adalah urusan gendong-menggendong. Suster yang baik mengizinkan saya-ibunya untuk menggendong putri kecil saya selama beberapa menit (LIMA MENIT sudah sangat lama bagi saya), bahkan ada suster sangat baik bersedia mengajari saya cara menggendong, maklumlah ibu baru belum bisa menggendong dengan baik dan benar. Suster tidak baik boro-boro memberikan kesempatan menggendong Aira, bahkan ada suster sangat tidak baik yang melarang saya membuka jendela inkubator, alasannya nanti Aira kedinginan.

2. Kurang Pro-ASI

Dengan kondisi Aira yang prematur dan BBLR sebenarnya sangat lazim diberikan susu formula khusus bayi BBLR. Saya sendiri awalnya ragu saat akan ‘membantah’ mengenai hal ini. Tapi mungkin insting ibu kali ya, saya percaya Allah sudah memberikan segala nutrisi yang dibutuhkan untuk titipanNya, dan ASI tidak akan tergantikan bahkan oleh susu semahal apapun. Bismillah… tetep ngeyellah saya, jika Aira tetap diberikan susu formula saya tidak mau bayar tagihan susunya *langsung nelfon kasir rumah sakit.

Pencerahan mengenai ASI dan bayi prematur akhirnya baru bisa saya peroleh saat menghadiri Pekan Asi Nasional Oktober 2013 yang lalu. Saya berkesempatan menanyakan mengenai tata laksana pemberian ASI untuk bayi prematur kepada dr. Utami Roesli *pada kenal kan siapa beliau?.

Menurut beliau memang belum ada prosedur khusus untuk bayi prematur karena tergantung kondisi masing-masing bayi. Tapi yang beliau rekomendasikan urutannya sebagai berikut:

                 1. ASI Ibu bayi itu sendiri

                 2. ASI Donor

                 3. Susu formula khusus bayi prematur

                 4. Susu formula biasa

Alhamdulillah berarti langkah yang saya ambil dulu memang tidak salah. Insting ibu untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya memang tidak mungkin salah. Rumah sakit yang Pro-Asi harusnya sudah default ASI, tidak perlu pasien berbusa-busa demi bisa memberikan ASI. Lah ini, sampai Aira pulang dari rumah sakit, belum pernah sekalipun saya diberi kesempatan menyusui langsung, meskipun saya sudah meminta-memohon-bahkan sampai mengemis agar diizinkan menyusui langsung.

Hal lain yang saya kecewa adalah pemberian empeng dan dot. Padahal sejak awal Aira dirawat saya sudah mengajukan permintaan untuk memberikan ASI Perah menggunakan sendok, namun tetap saja diberikan botol dot (alasan prosedur?). Saya sempat marah (waktu itu saya hobinya memang marah jadi maklumi saja hehe) saat melihat mulut Aira disumpel empeng dan diplester agar tidak lepas empengnya. Lah dikira anak saya ini apa? Alasannya karena Aira nangis terus, jadi disumpel empeng biar diem. Makin banyak nangis-makin banyak energi terbuang-makin susah berat badannya naik. Tetap saya tidak terima alasannya, LEPASS….

2012-05-20 15.16.55

Yaaa…paling enggak itulah ketidakpuasan saya dengan pelayanan NICU Rumah Sakit B*nda Menteng. Jika ada yang merasa saya terlalu membesar-besarkan masalah, ya memang kenyataannya saya membayar biaya yang cukup besar kok. Kalo ada yang bilang toh sebagian besar dibayar asuransi, lah gaji saya tiap bulan juga sudah dipotong premi asuransi… Jadi semuanya itu duit-duit gua, masalah buat elo *kata anak jaman sekarang…

Aira pulang dari rumah sakit saat beratnya 1840 gram, dan tantangan berikutnya: bagaimana merawat Aira dirumah? Nantikan dipostingan berikutnya….

25 thoughts on “[Sharing] Merawat Bayi Prematur – Bagian 1 (saat di rumah sakit)

  1. Dewi Nandiroh says:

    Saya nangis bacanya mba, saya alami takala anak saya juga prematur walopun beratnya 1900 gram tapi sedih waktu dia kudu di infus, dimasukin selang dimulutnya untuk masukin susu, ada suster yg baik juga nyebelin, setelah hampir 8 hari dirawat diinkubator dan kondisi adek stabil saya bawa pulang..alhamdulillah sekarang adek udah 8 bulan dengan berat 9,4 kg, asi dan formula susu yg saya beri sampai saat ini.

  2. Dewi Nandiroh says:

    Bunda Aira terima kasih responsnya, kakak aira udah besar ya bunda, semoga kakak Aira menjadi anak yg solehah bun, salam kenal dari dedek Fabian ya, kakak AIra tinggal dimana, boleh kan dedek main ke rumah. Cerita bunda Aira jadi mengingatkan kembali sewaktu saya melahirkan dedek fabian melalui bedah caesar juga karena kondisi plasenta sudah tdk bagus dan air ketuban kurang sedang usai kandungan baru 32 minggu, rencana kontrol dan harus nginap RS karena besoknya kudu operasi, dedek juga sempat pematangan paru 2 kali, sebelum dilahirkan. kalo ingat masa itu airmata ngalir bun, harapan untuk menyusui kandas, sudah berusaha semaksimal mungkin tetep anaknya minumnya make Dot, Asi masih terus mompa, awal mompa dulu bisa dapat 120 CC sekali mompa, sekarang paling cuma 40,60 CC sekali mompa hiks hiks dan suforlah yg menang bun..

    • Ayk says:

      Bunda Dewi, kakak Aira tinggal di Jagakarsa/Lenteng Agung, hayo aja mau maen ke rumah atau ketemuan di mall.
      Btw kemarin sudah sms juga kan? Saya reply tapi belum delivered sampe sekarang😦

  3. Shella says:

    Saya baru baca sharingannya, makasih atas sharingannya ya bunda Aira. Saya berasa punya teman yang mengerti apa yg saya rasakan. Anak saya juga lahir di b*nda 34 minggu dengan berat 1.540. Sekarang umurnya baru 3 setengah bulan. Yang bunda alami sama banget dengan yang saya alami waktu itu. Pengalaman dengan susternya juga sama persis. Sakit karna cesar jadi gak berasa walau baru 5 hari keluar dari rs saya harus bolak balik jenguk anak saya mengantar asi dan waktu itu anak saya harus di minumin pake selang belum bisa pake dot. Kalo bole saya ingin berbagi info tentang bagaimana bunda merawat Aira. Karna kadang saya juga bingung berbagi dengan siapa selain dengan dokter tentunya. Saya tunggu postingannya yang lain ya bunda.Terima kasih🙂

    • Ayk says:

      Halo Bunda Shella, saya sudah share lagi ya tentang merawat Aira saat di rumah. Kalo masih ada info lain yang dibutuhkan, di bagian kanan blog saya ini ada contact info saya, monggo silakan add.

  4. ella ummie andien & jundi says:

    Bunda aira..aq jg br aj ngalamin hal ini..baby jundi br plng dr RS tgl 7 mrt 14 kmrn,stlh 44 hari di rwt di perinatologi..jundi lhr prematur di usia gestasi 31 minggu bun,dg brt 1640 gr,kondisi lhr tdk lsng nafas..jundi jg smpt msk nicu slm 21 hari,sisany di ruang perawatan by prematur saat dia sdh stabil..smua yg jundi alami hmpr mirip dg aira,pemakaian ventilator,cpap dll..skrng usia jundi sdh 48 hari bun,brt-ny 2200 gr..kmrn jundi hbs test telinga bun,hslny telinga kiriny hslny krng bgs,n akan test ulang tgl 10 april mendatang,smp skrng aq kepikiran bgt,makany lg search testimony ibu2 dg bayi prematur ..bun,mhn sharingny lebih jauh donk soal pemeriksaan telinga itu..thanks ya bun..

    • Ayk says:

      Halo bunda Jundi, aduuuh maaf lama reply nya … kelewatan baca komennya. Sekarang udah tes ulang belum, bun? Gmn hasilnya? Aira waktu tes OAE pertama juga ga bagus yang kanan, tapi setelah tes ulang beberapa bulan kemudian alhamdulillah telinga kanan-kiri bagus.

  5. susy says:

    Haloo bunda aira..hiksss sedih banget bacanya..ternyata banyak bunda” lain yg mengalami hal yang sama seperti saya, melahirkan dengan operasi caesar, anak lahir dengan kondisi kurang umur, harus dirawat dirumah sakit,mendapat perlakuan yg berbagai macam dari perawat” yang jaga….semua butuh perjuangan ya bun…anak saya lahir dengan berat 2010 gram, dirawat 2 minggu, semua ceritanya bunda aira sama persis dengan yg saya alami. saat ini pun ketika usia anak saya 2 bulan 20 hari saya belum bisa membawa dia u control lagi dkarenakan biaya dan juga jarak tempuh yang memkn waktu hampir 5 jam u ke kota…. apa kah wajib ya bunda u kita kontrol semua, seperti telinga atau mata gtu???

    • Ayk says:

      Halo Bunda Susy … kalo pemeriksaan pemeriksaan yang dijalankan Aira itu sih memang anjuran dari dokter, Bun. Mau dilakukan atau tidak kembali ke orang tua masing-masing.

      Apalagi kalo seperti bunda Susy yang harus menempuh perjalanan jauh kalo mau periksa, kasian baby juga masih kecil dah diajak jalan jalan jauh. Sebaiknya diskusi sama suami dan juga dokter anak dulu, dengan kondisi seperti itu pemeriksaan apakah yang benar-benar perlu?

      Mudah2an sehat sehat ya si baby

  6. evi says:

    mbk ayk.salam kenal. saya baru melahirkan bayi prematur.melahirkan tgl 25juni 2014 di34w berat bdn bayi 2400g.karena pecah ketuban dini.
    saya nangis bc cerita mbk.terutama liat gambar aira yg pake empeng dikasih solasi. ya allah tuh suster kok tega bgt ya. semoga aira slalu diberi kesehatan.amin..

  7. octaviyanti says:

    slm kenal mba.sy jg prnh merasakan mempunyai se orang anak prematur anak sy brtnya1200,sy sngt sdh mlht anak sy di ksh alat” di suntik mlh sy smpt pts asa kl anak sy tdk bs slmt tp sy bersukur suami sy sll memberikan sy soport jngn menyerah krn di blk cobaan ini pasti ada hikmanya,

  8. uni says:

    Assalamu’alaikum. Salam kenal saya Eva. Terharu mbaca pengalaman mbak. Sy juga punya bayi prematur, lahir diusia 35 mgg 1.5 kg. Sekarang sdh 4 bulan. Waktu usianya 3.5 bulan bbnya 4.4 kg. Normal nga ya mbak? Sama dsanya disuruh minum sufor In**trini.

    • Ayk says:

      Halo bunda Eva. Kayaknya sih normal ya mbak berat baby-nya. Aira dulu lebih kecil malah, 3 bulan cuma 3 kilo sekian, 4 bulan – 4 kilo sekian. Tapi sama dsa nya ga disuruh nambah sufor apapun, tetep ASI aja.

  9. Wulan says:

    Gak bisa ngomong apa2 deh salut buat perjuangannya. ngomong please infonya donk.. itu pake asuransi apa ya?kok langsung bisa di cover bayi baru lahirnya. boleh PM kl dianggap promo, thanks..

    • Ayk says:

      Mbak Wulan,
      Maaf late reply juga, saya pake asuransi dari kantor mbak, lupa waktu itu provider nya apa krn tiap tahun kantor saya gonti-ganti asuransi.

  10. Harvinto says:

    salam kenal bunda, istri saya juga mengalami seperi bunda, anak kami udah melakukan pemeriksaan mata, jantung dan OAE. saya mau tanya untuk pemeriksaan Cek fungsi organ penting ke dokter anak subspesialis pencitraan kalau di jakarta di rumah sakit apa dan kira-kira biayanya berapa, terimaksih

  11. snacksore says:

    mbaaak, ih galau dgr cara test ROP.. antara g tega gimana. siang ini jadual Lintang test ROP. kebayang dia bakal kesakitan pas testnya. sedih nih mbaaak😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s